Aku terlahir dari seorang ayah yang dan bunda yang sederhana. Mereka mungkin seperti orang tua yang biasanya yang selalu berusaha untuk selalu membahagiakan anaknya. Aku terlahir tidak seperti bayi pada umumnya yang lahir dengan kepala terlebih dahulu. Kakiku yang mungil dan rapuh berusaha menendang dan seolah ingin segera menginjak bumi yang indah terlebih dahulu. Semua tak menyangka jikalau aku akan terlahir sungsang. Bundaku yang sedari siang menahan rasa mulas karena rangsangan aku yang begitu semangat ingin keluar tidak mengetahui juga bahwa dia sedang berjuang untuk melahirkan bayi laki-laki yang kakinya terlebih dahulu merasakan hawa dunia yang dingin. Begitu pula dengan ayahku yang dengan begitu setianya terus mendukung dan menemani bunda, juga terus menyemangati bunda meskipun dia tahu bahwa bunda sudah terlampau capek dan kehilangan sebagian besar tenanganya untuk menahan rasa sakitnya. Bidan yang menolongku juga asistennya tak kalah kagetnya pula melihat aku yang terlahir sungsang. Semua terpaku dan tak bicara sepatah katapun, mereka semua diam termasuk Mbu yang dari tadi sore telah berada disamping bundaku. Mereka tak mau bunda ketakutan jikalau bunda tenga berjuang melahirkan bayi dengan keadaan sungsang. Bunda hanya tau jikalau dia sedang berjuang menukar nyawanya dengan seutas tali kebahagiaan yang akan segera muncul sebentar lagi. Setelah perjuangan melawan rasa mulas dan nyeri, akhirnya aku bisa keluar juga dengan sedikit susah payah. ketika sudah berada di dunia luar pun, aku tidak seperti bayi pada umumnya yang langsung menangis, badanku yang hampir berubah menjadi ungu dan sedikit lagi berubah jadi biru, lagi-lagi membuat orang di sekelilingku jadi was-was dan pastinya deg-degan. Setelah perjuangan bidan untuk membolak-balikan aku, menepuk-nepuk punggungku dan merebahakan aku dengan posisi tengkurap di dada Bundaku, akhirnya kau bisa menangis, tapi hanya kecil saja. Setelah aku mengeluarkan sedikit suara kecilku akhirnya semua orang tersenyum gembira dan tangis haru pun menyeruak ke seisi kamar itu. Tak terkecuali ayah yang juga sempat meneteskan air mata bahagianaya. Aku bahagia telah dilahirkan normal oleh bundaku yang sangat sabar dan tabah,,,,
Terima kasih ayah dan bunda...
Love you Ayah uUnda
Monday, November 16, 2009
Monday, November 2, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
COPYRIGHT BY MILAN HARUN ARRASYID 19/02/09